dipost pada buletin ‘Pena Merah’
createthewords.blogspot.com
Oleh : Lubis Habib
Taburan embun membasahi permukaan hati yang sepi. Ditemani sejuknya pagi dengan mentari yang masih enggan menyapa. Seseorang pun mencoba menyapa dan mengisi kesepian ini.
‘Iga..kok ngelamun?’ sapa Rani mencoba menabur bahagianya.
‘Ohh..kamu, cuma pengen sendiri aja’ kaget Iga sambil menyembunyikan kerinduannya di balik secangkir kopi pahit di atas meja.
‘Kamu rindu – ‘ maksud Rani ingin bertanya.
‘Riysa’ sela Iga memotong pembicaraan Rani.
‘Bukan,, maksud aku ingin menanyakan kamu lagi rindu aku ya..’ gurau Rani menghibur dirinya dengan senyum simpulnya.
Niat hati yang ingin menghibur malah mengiris perasaan sedu.
‘Ouu.. ‘ jawab Iga ketus.
Dua insan yang terkurung kosakata yang tak mampu diterjemahkan. Berakhir dengan kesalahpahaman.
‘Kok diem aj..temani aku ngopi sini’ tawar Iga mengalihkan kesedihan yang diterjemah dari wajah Rani.
Mentari pun menyambut obrolan yang ingin meluruskan niatan baik Rani.
‘Riysa kenapa gak ikut kita?’ tanya Rani.
‘Gak tahu..’ jawab Iga dan kemudian terdiam. Tak ingin mengacaukan liburan akhir semester kelas mereka.
Ikatan kasih yang terputus oleh ego yang tak mau mengalah. Seseorang ingin mengisi hati kelabu dan ingin menabur bunga penuh warna.
Hati tak ingin mengingatkan masa lalu, hanya mencoba mengetuk pintu hatinya yang sempat robek dan menutupinya dengan lapisan kasih tak bernoda.
‘Iga.. kamu gak perlu jadi manusia yang sempurna buat aku, hanya coba mengerti aku’ tegas Rani menyampaikan kejujuran yang lama tak tersampaikannya.
Iga bingung mengapa Rani tiba-tiba mengatakan hal itu. Iga mencoba meluruskan.
‘Aku masih terkenang kisah lalu, padahal hati sudah coba lupakan’ tegas Iga.
‘Ku mengerti..hanya tak ingin melihat kesedihan yang menyelimuti kamu’ susul Rani dengan nada tulus.
Dekapan hangat tercurah dari obrolan dan semakin mempertegas keinginan hati. Kejujuran walaupun sulit untuk tersampaikan, memang berbuah indah pada akhirnya. Melemahkan ego yang terus mengurung dan berhenti membohongi diri sendiri. Sadarkan bahwa itu keinginan hati yang tak tersampaikan.
Like this:
One blogger likes this post.